Hari Guru dan Chapter of Life yang Terus Menggelinding
Hari Guru dan Chapter of Life yang Terus Menggelinding

Hari Guru dan Chapter of Life yang Terus Menggelinding

Obrolan kami (saya dan anggota keluarga pemilik perusahaan dimana saya bekerja) yang awalnya agak kaku akhirnya menjadi lumer dengan semakin banyaknya topik ringan yang keluar mengalir begitu saja seperti air. Ya, hari ini mungkin terasa berat karena merupakan hari terakhir saya bekerja di outlet makanan Jepang milik teman saya. Selama 5 bulan lamanya, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memimpin perusahaan dengan sekitar 100 karyawan. It was just sudden notification bahwa saya sudah sebaiknya tidak di posisi tersebut dengan mempertimbangkan satu dan lain hal. Kaget mungkin awalnya, namun saya bisa menerima karena itulah rencana terbaik Tuhan untuk saya saat ini. Tentu bukan hal mudah dan tentu bukan pengalaman biasa-biasa saja buat saya. Tentu juga bukan pengalaman yang terlalu menggembirakan ketika saya harus pindah kerja dari dua perusahaan berbeda di tahun 2013 ini. Yang mana untuk yang terakhir ini, saya begitu menikmati pekerjaan saya. Tapi, Alhamdulillah saya bisa berserah tentang apa yang saya alami. Ya, Tuhan terus menggelindingkan chapter hidup saya di mana di setiap putaran saya selalu bisa belajar hal baru; kadang hal yang menyenangkan atau kadang pula sebaliknya….

Layaknya murid, saya terus belajar dan hari ini pula, 25 Nopember merupakan hari guru nasional. Hmm, obrolan kami di salah satu restoran steak, yang harga makanannya terlalu berlebihan buat saya, tadi salah satunya adalah membahas keluarga saya. Jujur, saya bangga bercerita tentang keluarga saya. Kedua orang tua saya adalah guru dan mereka hidup sederhana di desa nun jauh di Jawa Timur sana. Saya sangat bersyukur karena mereka hidup di tempat dimana hidup bisa bahagia berjalan seperti kapas yang tertiup angin; tidak ada tekanan untuk bertahan karena hidup memang harus selalu dengan ikhlas mengikuti jalan Tuhan. Lahir dan besar di keluarga guru memberi saya pengalaman sendiri yang menarik. Keluarga saya yang boleh dibilang sedikit priayi (dipandang di masyarakat), ditambah bapak saya yang boleh juga dibilang seorang pemuka agama, membuat saya dan kakak perempuan saya sewaktu kecil untuk selalu bisa menjaga sikap, begitu juga sampai tumbuh menjadi besar. Kadang saya agar merasa agak banyak batasan di sana. Namun, saya kembali bersyukur bahwa mungkin itu ilham dimana saya lahir dan besar dari orang yang terbiasa digugu dan ditiru (diperhatikan dan ditiru) karena saya memang harus terus bisa menjaga diri saya sebagai seorang pribadi. Mungkin mengikuti jalan Tuhan dengan ikut menggelindinding dengan bola chapter of life yang tidak terduga-duga tersebut memang menjadi jalan saya.

Dari salah satu buku yang saya baca, bahwa setiap saat setiap waktu bisa menjadi ruang kelas bagi siapapun. Dan saya, termasuk teman-teman semua bisa belajar dari siapapun bahkan dari orang-orang yang tidak baik kepada kita sekalipun. Kita belajar cara bersabar dari orang yang pemarah, belajar adil dari orang yang semena-mena, belajar ikhlas dari orang yang terlalu posesif dan sebagainya. Siapapun bisa menjadi guru dalam hidup dan saya tidak sabar atas apa rencana ke depan saya dari Tuhan dan siapa yang akan menjadi guru hidup saya selanjutnya

Selamat hari guru semuanya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *