Mari Kembali ke Desa, Membangun Desa
Mari Kembali ke Desa, Membangun Desa

Mari Kembali ke Desa, Membangun Desa

‘Dan salah satu kegalauan itu adalah ketakutan ketika kita menjadi orang yang kurang berguna bagi orang lain’

Senang, itu yang mungkin saya katakan ketika saya berada di rumah. Di desa nun jauh di Jawa Timur sana. Desa dimana mayoritas orang-orangnya bergantung pada sawah dan kegiatan cocok tanam lainnya. Desa dimana masyarakatnya hidup dengan sederhana dan bersahaja. Desa dimana mereka hidup jujur, penuh dengan tepo seliro dan makna syukur dalam hidup. Desa dimana banyak hal yang justru bermakna tidak bisa didapatkan dari kota.

Hm, namun desa kita sudah banyak berubah, desa dimana saya tinggal tidak seperti dulu lagi. Banyak hal yang membuat desa justru tertinggal, dan ini saya lihat tidak hanya terjadi di desa dimana saya lahir dan besar, namun juga di desa-desa lain yang pernah saya tinggali;

Desa yang kehilangan jati diri budayanya

Di tengah semakin gencarnya okupasi budaya asing dan teknologi yang diusung berbagai media massa, desa kehilangan jati diri budayanya. Budaya mendasar yang ada sejak nenek moyang seperti tepo seliro (saling menghargai), gotong royong, dan budaya Jawa yang seharusnya dihayati oleh kami yang memang orang Jawa. Secara personal, saya melihat bahwa pemahaman atas budaya nenek moyang menjadi sesuatu yang penting. Di situ kita dibentuk untuk menjadi manusia seutuhnya, oleh tradisi dan warisan yang terbetuk dan ada selama ratusan tahun. Sehingga bisa diketahui bahwa budaya mencerminkan tata diri seseorang, tanpa budaya hidup tentu seakan kosong.

Desa saya sudah jauh lebih modern daripada dulu ketika saya masih kecil, namun banyak hal yang hilang di situ yang saya rasakan selama ini. Budaya yang makin ditinggalkan dan tidak diwariskan ke generasi saat ini sejak dini.

Masyarakat justru hidup dalam keterbatasan

Dimana banyak dari mereka bahkan hidup dalam garis kemiskinan. Pertanian bukan menjadi hal utama yang menghidupi di tengah ketidakpastian harga serta kondisi cuaca yang merupakan salah satu faktor utama dalam bercocok tanam. Saat ini banyak masyarakat yang daya belinya sangat rendah bahkan tidak memiliki daya beli sama sekali. Bagi masyarakat desa, 100 rupiah sangatlah berharga. Tidak sedikit dari mereka yang terjerat utang dan menurut saya entah dari mana mereka bisa membayar utang tersebut. Keterbatasan kemampuan, keahlian dan pendidikan membuat mereka tidak punya banyak pilihan yang akhirnya mereka tetap menggantungkan hidup pada pertanian, yang sekali lagi tidak menentu.

Masih rendahnya kesadaran pentingnya pendidikan dan daya saing 

Hidup dengan informasi yang semakin terbuka lebar dengan hadirnya acara televisi dan lainnya, tidak membuat masyarakat bisa memilih dan memilah informasi mana yang penting dan sebaliknya. Dulu, ketika saya SD jumlah orang yang punya televisi sangatlah sedikit, satu RT mungkin cuma 1 orang. Saat ini hampir setiap rumah memiliki televisi. Dan seperti kita tahu bahwa tidak semua acara televisi memuat pembelajaran yang bagus, kadang justru sebaliknya. Toh keberadaan televisi justru tidak membuat warga paham dan menyadari akan pentingnya keahlian dan tingkat pendidikan sebagai salah satu prasyarat utama untuk meraih keglamoran dunia seperti yang ditunjukkan oleh televisi.

Namun lebih dari itu, ada banyak missing link yang nyata dan memang harus ditemukan yakni ketersediaan informasi sempurna yang menjawab pertanyaan banyak khalayak desa tentang what to do dan how to do. Hal ini menjadi salah satu perhatian utama dan serius yang memang harus dibangun.

Mencari Sebuah Pendekatan Pembangunan Desa yang Baru

Ya, sudah buanyak sekali orang-orang besar yang lahir dari desa di negeri ini. Mereka yang berjuang dari banyak sekali keterbatasan dan bisa meraih apa yang banyak orang bilang menjadi sesuatu yang ‘tidak mungkin’. Namun entah, ini fakta atau hanya dalam dunia imajinasi saya banyak di antara mereka yang justru lupa dengan desa. Lupa dengan lingkungan dimana mereka pertama tahu dunia. Menjadi acuh dan tidak peduli dengan kenyataan bahwa desa mereka yang indah justru akan tenggelam dalam derasnya arus kemiskinan.

Pendekatan pembangunan desa yang baru tentu dibutuhkan, dan jika memungkinkan maka mereka-mereka yang telah mencapai titik pencapaian yang tinggi bisa kembali untuk berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung. Pembangunan desa memang akan sedikit banyak bergantung pada pemerintah atau pihak swasta, namun inisiatif pribadi masyarakat juga perlu digalakkan. Pembangunan pedesaan untuk mencapai apa yang banyak orang sebut sebagai Millenium Development Goals yang bahkan menjelang 2015 ini juga masih belum banyak tercapai di Indonesia.

Pembangunan desa butuh inisiatif yang menekankan pada pembangunan kharakter melalui pelestarian budaya, pembangunan ekonomi yang variatif serta pembangunan pendidikan dan kesadaran akan daya saing. Dan dari banyak hal yang dibutuhkan untuk membuat ini nyata, kebutuhan utama tidak lain dan tidak bukana dalah ANDA. Ya, teman-teman semua orang desa yang telah merantau ke kota, berjibaku dengan banyak hal di sana. Banyak hal keras nan kadang menyakitkan yang membuat teman-teman bermental baja dan memiliki berbagai kharakter baik lain yang layak ditirukan kepada keluarga kita di desa. Kita perlu bergerak sedikit saja, untuk melihat senyum bahagia ibu-ibu desa, tawa anak-anak kecil atau kelegaan bapak-bapak, karena masih ada yang peduli dengan mereka. Ya, mereka butuh teman-teman semua!

Teman-teman adalah pelaku utama untuk melakukan sesuatu yang sifatnya taktis nyata dan bukan simbolis semata.

Salasika dan Inisiatif Kami

Saya merasa sangat beruntung karena bisa merasakan berbagai hal yang mungkin teman saya lainnya di desa tidak bisa rasakan. Bepergian ke luar negeri, menikmati sedikit kemakmuran kota dan lingkungan pergaulan yang berbeda. Dan kadang saya merasa sedih bahwa apa yang saya dapatkan selama ini belum banyak saya berikan kembali ke desa dimana saya lahir dan tumbuh besar. Ya, inisiatif kecil mungkin akan sedikit mengubah banyak hal. Saya secara personal ingin mengembangkan apa yang disebut dengan Salasika, inisiatif untuk memecahkan tiga masalah utama tersebut yakni hilangnya identitas budaya, ketergantungan akan sector ekonomi yang tidak menentu serta belum adanya akses informasi yang memadai. Salasika sendiri berarti ‘anak yang berani’ dan memiliki moto ‘where everyone starts living dreams’ dan ‘making good change’.

Saat ini kegiatan Salasika masih terbatas pada pemberian bantuan langsung tunai kepada mereka yang membutuhkan terutama yatim piatu dan nenek jompo. Namun ke depannya dan sudah terencana, Salasika akan jauh lebih komprehensif dari itu. Salasika nanti akan menjadi tempat dimana masyarakat desa bisa belajar, berdiskusi dan menggerakkan perekonomian mereka.

Ya, Salasika akan kembali dengan banyak hal yang menggembirakan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *