Vegetarian is on Progress
Vegetarian is on Progress

Vegetarian is on Progress

Vegetarian might be the term that we use to hear and could also be the term that we ignore most. Itu pula yang selama ini ada dalam pikiran saya. Dulu saya sangat skeptis dengan mereka yang merupakan vegetarian “buat apa susah-susah makan sayuran dan buah saja, kan daging-dagingan masih enak”. Belum lagi jika pergi ke suatu tempat, maka mencari menu yang pure vegetarian akan sangat susah. Namun skeptisme tersebut berlangsung hilang ketika saya mulai memahami bahwa menjadi vegetarian bukan hanya karena didorong oleh gaya hidup agar terlihat sehat, keren atau eksklusif. Ya, ada alasan lain yang lebih dari sekedar itu, yang baru saya tahu setelah membaca buku tentang kebijaksanaan hidup.

It is just time to tell you the noble reason behind being a vegetarian. Manusia hidup dengan perasaan, emosi dan nafsu. Manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya adalah mereka yang hidup dengan bahagia. Pengendalian nafsu dari hal terkecil hingga yang lebih complicated. Pengendalian terhadap hawa nafsu ini pula yang akan mempengaruhi tata cara pandang mereka terhadap hidup. Bagi sebagian orang, penghormatan akan hak hidup menjadi suatu kebutuhan yang mendasar, tidak hanya kepada manusia namun juga terhadap makhluk hidup kasat mata lain yakni hewan dan tumbuhan. Selanjutnya, penghormatan ini pula yang akan menjadi dasar mereka untuk tidak menghilangkan nyawa makhluk hidup lain untuk kepentingan makhluk hidup lainnya. Now, you are about to get the point. Ya, begitu juga dengan manusia maka sebisa mungkin untuk tidak membunuh makhluk hidup lain untuk pemenuhan kepentingan perut. Dengan demikian, ini adalah salah satu bentuk pengendalian hawa nafsu. Lebih-lebih bagi mereka yang percaya karma dan reinkarnasi. Manusia dalam reinkarnasinya bisa menjadi manusia atau hewan. Dengan demikian, memakan hewan bisa saja memakan “manusia dalam bentuk lain”, yang mungkin dalam kehidupan sebelumnya merupakan teman atau kerabat dekat. Memakan sayuran dan buah-buahan tidak akan menghilangkan nyawa mereka. Buah diambil dari pohonnya, dan sayur dipotong dari pohonnya pula. Mungkin vegetarian tidak tahu apakah petani sayuran mencabut seluruh pohon bayam atau kangkung (yang mana hal ini tentu di luar kontrol para vegetarian). Namun asumsi yang dipakai adalah semua sayuran dan buah-buahan diambil dari pohonnya, dan asumsi ini akan selalu masih valid untuk digunakan.

Understanding this angle of perspective really makes me believe that it is worth to try. Dan benar saja, saya akhirnya mencoba untuk menjadi vegetarian, half-way vegetarian tepatnya. Sebelum memutuskan hal ini, saya sering berpikir “wah, dunia seolah akan sangat berubah karena saya hanya akan makan hijau-hijauan. Belum lagi harus repot mencari menu yang  vegetarian friendly” Namun, kembali ke worth-to try idea, akhirnya saya mencoba juga memilih jalan ini.

Menjadi vegetarian bukanlah hal gampang, karena semua menu harus diperhatikan kadar gizinya. Kalau tidak, maka bisa-bisa akan terjadi kekurangan gizi. Itu pula yang dikatakan oleh teman saya yang dulu pernah menjadi vegetarian selama beberapa tahun, namun akhirnya berhenti menjadi vegetarian. Sehar-hari saya hanya berkutat dengan sayuran dan buah-buahan dan kadang juga mengolah dan memasak bahan-bahan tersebut sendiri. Untungnya di dekat tempat saya tinggal ada restoran vegetarian yang bernama healthy vegy. Restoran yang dikelola oleh vihara di sampingnya tersebut punya cukup banyak fans. Terutama saat jam makan siang, restoran akan sangat ramai. Menunya beranekaragam mulai dari sayur, olahan sayur dan jamur seolah seperti daging, aneka jus segar dan sebagainya. Teman saya awalnya juga terkejut dengan pilihan ini dan kadang juga curious dengan alasan saya serta bagaimana repotnya dan menderitanya hidup dari sudut pandang mereka. Kalau dikatakan repot, maka memang akan seperti itu jadinya. Terlebih ketika saya bepergian untuk traveling atau kepentingan lainnya. Saya punya pilihan yang terbatas untuk dimakan, mungkin yang paling sering saya jumpai hanyalah cah kangkung ahaha.

Sebagai half-way vegetarian, saya bersyukur karena saya masih memberi kesempatan untuk berdamai dengan diri sendiri dengan cara mempunyai one day off yang saya sebut “hari makan hewan”. Hari yang akan ada at least paling cepat seminggu sekali dimana saya bisa makan menu yang terbuat dari daging. Menanti hari yang didamba-dambakan tentu akan menjadi sesuatu yang lama ditunggu dan akan menjadi kebahagiaan ketika hari itu datang. Bagi saya, awalnya memang seperti itu, namun lambat laun menjadi biasa saja. Saya senang namun kadang ketika melihat menu dari daging saya akan bisa cepat merasa kenyang dan kehilangan nafsu makan ahaha. Ke depannya, saya tidak tahu apakah saya akan tetap menjadi half-way vegetarian, menjadi full-way vegetarian atau justru failed vegetarian. Namun, saat ini dengan menjadi half-way vegetarian, saya bisa lebih menghormati keberadaan makhluk hidup lain dan bisa mengendalikan nafsu untuk bisa menghargai keberadaan dan eksistensi mereka. Ya, vegetarian is still in progress buat saya

Apakah teman-teman tertarik untuk mencoba apa yang saya coba?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *