Tawa bahagia lepas saja terdengar dari sekolompok anak-anak perempuan kecil, usianya kira-kira sepantaran anak SD. Ya, suara mereka memecah kesunyian pantai dan suara ombak jauh di pelosok Karimun Jawa yang letaknya di lepas pantai Jepara. Anak-anak ini seperti anak-anak pulau lainnya menjadikan pantai sebagai salah satu area bermain utamanya. Mereka sangat sibuk atau lebih tepatnya antusias dengan bayi gurita yang secara tidak sengaja mereka temukan di salah satu sisi pantai. Saya yang waktu itu ada di situ hanya mengamati dan ketika saya mencoba ikut serta dalam momen keceriaan mereka, mereka tidak mengindahkan. ‘Ya, namanya juga anak-anak’ begitu pikir saya.
Melihat hal itu, jika kita mengingat kembali masa-masa kecil, pasti akan banyak momen-momen bahagia yang kita lalui. Well, pasti ada momen yang bertolak belakang dan mungkin juga tidak semua anak-anak mengalami masa-masa bahagia. Namun secara universal, dunia anak adalah dunia yang paling representatif sebagai simbol kebahagiaan.
Membaca pernyataan tersebut maka saya bertanya pada diri sendiri: kenapa hanya masa kanak-kanak? Apa waktu dewasa atau tua kita tidak berhak untuk bahagia? Atau mungkin ada baiknya jika saya mengubahnya menjadi ‘masa kanak-kanak, masa muda dan masa dewasa adalah simbol dan momen kebahagiaan setiap orang’.
Hidup menurut saya seperti halnya kita membawa tas ransel, semakin tua maka bagi sebagian orang isi tas ransel tersebut akan makin banyak, ya beban akan juga makin berat. Ada orang yang terfokus pada beban berat serta pada keluhan-keluhan yang justru akan membuat hidup seakan terus berat dan menderita. Di sisi lain, ada pula orang yang mencoba untuk melepas beban ransel tersebut. Setiap kali ada beban, maka beban tersebut akan dimasukkan pada tas ransel namun pada momen tertentu beban tersebut akan dikeluarkan secara teratur dan tas ransel akan menjadi ringan kembali.
Lantas, tas ransel apa yang teman-teman pilih? Kalau saya tentu ingin sekali mempunyai ransel kosong. Setiap beban hidup saya tuntaskan dengan baik. Semua memori akan saya simpan dalam otak saya dan akan menjadi power/kekuatan dan modal berharga agar ransel saya nanti akan selalu kosong. Ransel kosong ini pula yang akan membuat hidup menjadi lebih bahagia dan ceria, tanpa beban dan tuntutan yang berlebihan.
Lantas, bagaimana agar ransel kita bisa kosong? Berikut ini adalah beberapa jalan yang bisa dicoba:

1. Damailah dengan konflik
Hidup bersama dengan orang lain tentu akan rentan dengan konflik. Ada baiknya jika kita tidak memulai konflik sekecil apapun dengan orang lain. Dan apabila kita terlibat dalam konflik, maka sebaiknya kita ikut serta dalam mengurai benang kusut masalah tersebut. Jika salah, maka dengan besar hati kita sebaiknya untuk meminta maaf. Jikapun bukan kita maka akan menjadi suatu kedamaian jika kita bisa legowo alias berbesar hati memaafkan orang tersebut.
Saya masih ingat suatu pernyataan yang pernah saya baca sebagai berikut:
Kids Arguing:
“I hate you! I won’t play with you again” So they played apart.
After few minutes, they played together again and shared toys.
Why? Because for kids, happiness is more important than pride.
Anak-anak ketika bermain kadang juga terlibat konflik. Namun hanya dalam hitungan menit, mereka akan bermain bersama kembali karena bagi mereka kebahagian lebih penting daripada kebanggaan dan gengsi pribadi. Kembali saya menekankan bahwa ada baiknya kids arguing ini diubah menjadi people arguing, pernyataan di atas tidak hanya bagi anak-anak namun juga berlaku bagi semua manusia segala umur.
2. Tidak hidup untuk masa lalu
Manusia mungkin pernah berbuat keburukan di masa lalu. Perasaan bersalah masa lalu ini mungkin akan menghantui masa kini dan masa depan. Masa lalu memang telah lewat. Perasaan bersalah harusnya menjadi pelajaran dan masukan untuk perbaikan diri. Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa mengubah masa lalu. Biarkan masa lalu menjadi kenangan indah walaupun sebenarnya tidak begitu indah. Orang yang pernah gagal akan tahu betul bagaimana bahagianya menjadi berhasil/sukses. Dan mereka akan cenderung lebih menghargai setiap kerja keras dan upaya yang dilakukan untuk mencapai keberhasilan tersebut. Pengalaman gagal atau buruk masa lalu ini pula yang nantinya bisa menjadi cerita pengalaman/sharing session kepada orang lain. And guess what? They will listen to you dan memetik pelajaran berharga dari pengalaman tersebut.
3. Apa yang orang pikirkan tentang kamu bukan urusan kamu
Orang A berbicara ini tentang teman-teman, sedang orang B berbicara itu.Ini itu ini itu, bingung jadinya. Kalau kita terlalu fokus terhadap penilaian orang lain yang justru tidak objektif maka kita yang akan bingung dan repot. Sebagai manusia, cukuplah bagi kita untuk menjadi yang terbaik dalam batasan yang kita bisa lakukan serta menghormati orang lain. Usahakan untuk tidak kepo atau terlalu ikut campur terhadap urusan orang lain. Menjadi kepo justru akan menghabiskan waktu kita sendiri dan ini benar-benar tidak produktif. Hal ini justru akan menjadi bumerang karena orang lain juga akan kepo dengan kehidupan kita.
4. Jangan bandingkan hidup dengan orang lain
Manusia punya porsinya masing-masing. Ada yang lahir kaya, ada yang lahir kurang beruntung, ada yang lahir dengan fisik sempurna namun ada juga yang justru sebaliknya. Namun dalam kepercayaan yang saya anut, saya meyakini bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi setiap umatnya: semua sudah dibuat sesuai dengan takaran dan porsinya. Dan inilah yang menjadikan hidup justru lebih sedap dan menarik. Sesuatu yang sifatnya terlalu berlebihan, tentu tidak akan baik jadinya. Jika teman-teman tahu siapa Lady Gaga, maka salah satu lagunya yang menjadi hits di dunia berjudul “born this way”, ya manusia telah dilahirkan dijalannya sendiri-sendiri, dan mereka sebaiknya mensyukuri itu.
5. Senyum
Saya bertemu dengan banyak sekali orang dari berbagai latar bangsa, pendidikan dan kelas ekonomi. Satu hal yang saya bisa simpulkan bahwa bahasa universal untuk kebahagiaan adalah senyum. Sama halnya dengan pengalaman teman-teman ketika menemui banyak sekali konsumen selama bekerja di Okirobox, maka konsumen yang bahagia dengan pelayanan yang diberikan akan pasti tersenyum sumringah tanpa harus mengatakan “saya bahagia lo karena pelayanan prima dari kalian”.
Dua orang psikolog dari Universitas Texas di Amerika Serikat, Tara Kraft dan Sarah Pressman pernah melakukan penelitian untuk melihat bagaimana hubungan senyum dengan tingkat kesetresan seseorang. Penelitian itu menyimpulkan bahwa senyum dapat meringankan beban, tidak hanya beban psikologis, tetapi juga beban fisik yang menimpa tubuh ketika dilanda stres. Jadi, mari kita tersenyum bahagia!
6. Tidak ada orang lain yang in charge dalam hidup kecuali kamu
Ya, kita tidak seharusnya bergantung kepada orang lain. Menggantungkan diri pada orang lain atau pada keadaan tertentu akan menjadi sesuatu yang membuat kita tidak mandiri. Ingin ini, harus menghubungi si-A dulu, ingin itu harus mengubungi si-B dulu. Cobalah untuk mendata apa saja hal-hal yang kita butuhkan dalam hidup dan berusaha untuk memenuhi hal tersebut dengan kapasitas yang kita punya. Jika kita terlalu tergantung pada si-A, si-B, si-X atau si-Z, maka justru kita akan repot jika kita lepas/orang-orang tersebut tidak ada.
7. Berhenti berpikir terlalu keras: ikhlas
STOP! Berhenti, istirahat dan ikhlaskan
Jika kita telah berusaha dengan maksimal mengerahkan segala upaya tapi hasilnya tidak sesuai dengan rencana dan harapan. Jika teman-teman pernah dengar ungkapan “Kita berusaha maksimal, namun Tuhan yang menentukan hasilnya”, maka itu benar adanya. Dengan demikian kita harus legowo alias ikhlas dengan hasil dari setiap usaha yang kita lakukan. Tapi sebelum hal ini terjadi, maka pertanyaan besar untuk kita semua adalah: apakah kita sudah optimal berusaha? Jika belum, ya sebaiknya kita berusaha lebih rajin/giat lagi.
Jadi, bagaimana teman-teman? Sudah siap untuk memiliki “ransel kosong” demi hidup yang lebih bahagia dan ceria? Saya berharap bahwa keluarga besar Okirobox berisi teman-teman yang ranselnya kosong semua. Saya siap dan berusaha untuk “ransel kosong” tersebut, semoga teman-teman juga