‘In the resilient world, they live with past memories kept in mind. They have been waiting for justice, love and acceptance’
Our old moms….trapped in times, living in the past, haunted by memories
The world keeps spinning, so does the life. Mungkin di masa lalu seseorang mengalami masa-masa pahit. Memori tersebut mungkin terlupakan namun bagi sebagian lainnya, guratan wajah tidak bisa berbohong. Semuanya jelas terpahat di situ.
Indonesia sudah merdeka sejak lebih dari 60 tahun lalu. Namun ada sejarah menyedihkan yang bahkan tidak banyak diketahui oleh orang atau bahkan tidak termuat dalam kurikulum pendidikan. Sejarah menyedihkan praktek jugun ianfu pada masa penjajahan Jepang. Dan karena tidak saya pelajari di sekolah, saya tahu tentang perbudakan seksual ini dari cerita nenek saya. Nenek saya masih ingat dengan betul dan menceritakan bagaimana pengalaman tetangga saya yang bernama Mak Kar, yang telah meninggal dunia sejak 2002 yang lalu.
’Mak Kar mbiyen iku ianfu. Tentara Jepang nang deso-deso nggelek i arek-arek ayu. Mak Kar mbiyen e ayu banget’
(Mak Kar itu dulu ianfu. Tentara Jepang pergi ke desa-desa untuk mencari gadis yang cantik-cantik. Mak Kar dulu cantik sekali).
Lantas dulu ceritanya, Mak Kar dibawa ke Kalimantan beserta gadis lain dari berbagai daerah di seluruh pelosok Jawa Timur. Tidak banyak cerita yang disampaikan ke saya tentang apa yang dilakukan atau dialami Mak Kar selama berada di Kalimantan serta bagaimana akhirnya dia kembali pulang ke desa kami: semuanya serba tanda tanya. Mak Kar pun seolah menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak menceritakan apapun, setidaknya ketika saya masih kecil pada medio 1990an. Mak Kar sering pergi ke rumah keluarga saya untuk membantu nenek saya merapikan rumah atau kadang memijit nenek saya yang sedang kecapekan. Bahkan karena sudah dekatnya, kami sudah menganggap Mak Kar sebagai bagian dari keluarga kami sendiri dan saya menganggapnya sebagai seperti nenek saya sendiri. Saya yang masih kecil tidak tahu tentunya tentang apa esensi di balik jugun ianfu dan pengalaman yang dialami oleh Mak Kar.
Jugun Ianfu merupakan sebutan untuk wanita penghibur pada masa penjajahan militer Jepang. Wanita-wanita ini lantaran justru menjadi budak seks tentara Jepang di kamp-kamp tentara yang ada di daerah jajahan Jepang seperti Korea, China, Filipina, Viet Nam dan Indonesia. Perekrutannya dilakukan dengan berbagai cara misalnya diiming-imingi pekerjaan yang layak, dijanjikan beasiswa di Jepang, sampai pada menjadi wanita seniman di teater tradisional untuk menghibur tentara Jepang. Dengan adanya berbagai modus ini, gadis-gadis cantik nan lugu berumur belasan tahun tentu akan senang hati untuk ikut bersama tentara Jepang demi pengharapan hidup yang lebih baik. Praktek jugun ianfu telah direstui oleh Kaisar Hirohito dan pertama kali di lakukan di Shanghai, China.

Derita wanita-wanita lugu Indonesia memang tidak berperi. Wanita-wanita ini ditempatkan di kamar-kamar dan satu orang akan menempati satu kamar. Setiap hari mereka harus melayani hasrat seksual puluhan tentara. Merekapun dikelompokkan berdasarkan kelas. Mereka yang masih perawan akan menjadi kelas atas. Bagi mereka yang diduga menderita penyakit kelamin akan menjadi kelas lebih bawah. Bahkan nasibnya akan sangat malang karena mereka tidak menerima pengobatan. Wanita yang mendapatkan nama Jepangnya masing-masing ketika pertama kali masuk kamp ini dibiarkan kelaparan. Banyak di antara mereka mati karena penyakit, kurang gizi atau bunuh diri karena derita emosional yang mendalam. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kejamnya para tentara tersebut dan bagaimana para wanita ini harus bertahan hidup.
Setelah Jepang kalah dan tentaranya ditarik kembali, para wanita ini dibiarkan terlantar di kamp. Mereka akan lebih memilih untuk bertahan di sana atau mengucilkan diri di daerah terpencil karena tidak tahan akan cap negatif masyarakat. Masyarakat masih menganggap jugun ianfu adalah wanita murahan yang melacurkan diri demi bayaran, sedangkan nyatanya tidak bahkan mereka tidak dibayar sedikitpun. Bagi mereka yang kembali ke kampung halamannya, tidak sedikit dari mereka yang tidak diakui oleh keluarganya. Sepanjang hidup menderita fisik, batin dan emosional. Dan hal ini diperparah dengan tidak adanya dukungan yang cukup dari pemerintah. Seingat saya, ketika saya belajar sejarah tentang zaman pendudukan Jepang, tidak ada bahasan tentang jugun ianfu sama sekali. Padahal mereka adalah bagian sejarah yang tidak boleh dilupakan. Mereka ada bukan karena mereka ingin seperti itu. Sangat naif dan sepertinya tidak mungkin ada wanita yang mau menjadi budak seks tentara Jepang dengan alasan apapun. Setiap wanita punya martabat dan mereka akan berusaha mati-matian mempertahankan martabatnya. Sungguh sangat disayangkan sekali jika kita sebagai anak bangsa melupakan sejarah ini.
Dukungan pemerintah memang sangatlah kurang. Berdasarkan artikel yang saya baca, pada zaman pemerintahan orde baru, pemerintah melarang para korban untuk angkat bicara karena takut bahwa investasi dan bantuan ekonomi dari Jepang akan seret mengalir ke negara ini. Tanpa adanya larangan pun, para mantan jugun ianfu ini akan dengan sendirinya menutup mulut karena penderitaan yang mereka alami sudah dicap sebagai aib oleh masyarakat. Bukan dukungan moral yang didapat namun justru sebaliknya.

Hal berbeda dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan. Mereka secara konsisten mendukung perjuangan para mantan jugun ianfu dan masyarakat serta LSM yang mendukung hal tersebut, agar pemerintah Jepang:
1. Memberikan permintaan maaf secara resmi atas nama pemerintah, warga dan negara Jepang
2. Memberikan kompensasi materi kepada korban yang masih hidup
3. Mendirikan monumen untuk mengkormati korban jugun ianfu
4. Meluruskan sejarah dan memasukkan jugun ianfu di kurikulum pendidikan formal di Jepang sebagai bagian sejarah kelam bangsa tersebut
Korban jugun ianfu, masyarakat dan LSM Korea saat ini masih aktif memperjuangkan impian mereka. Perjuangan tersebut bermula pada 8 Januari 1992 dimana salah satu korban dari Korea angkat bicara. Sejak saat itu, satu persatu korban di negara lain juga mulai angkat berbicara. Di Seoul sendiri, protes reguler digelar setiap Rabu di depan Kedutaan Besar Jepang di sana. Bahkan untuk memperingati Rabu ke 1.000 di depan kedutaan tersebut dibangun Peace Monument for Comfort Women. Monumen ini berupa patung gadis Korea berbaju hanbok dan duduk di atas kursi. Di sampingnya ada kursi kosong.
Walaupun demikian, pemerintah Jepang masih enggan untuk meminta maaf. Di Indonesia, dukungan dari berbagai LSM juga diberikan namun belum semasif yang terjadi di Korea. Kini, para mantan jugun ianfu sudah berusia senja. Di Indonesia, keberadaan mereka juga masih sulit terlacak karena mereka masih enggan untuk bercerita tentang pengalaman kelam mereka. Satu per satu mereka sudah tiada, tanpa adanya niatan baik dari pemerintah untuk meluruskan sejarah bangsanya sendiri.
Penderitaan para mantan jugun ianfu ini tentu tidak terperi. Saya tidak akan kuat jika nasib seperti mereka. Bahkan apa yang dialami Kartini tentu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mantan jugun ianfu ini. Sebagai bangsa yang besar sudah sepatutnya kita tidak melupakan sejarah dan sudah sepatutnya bagi pemerintah untuk meluruskan sejarah bangsanya sendiri. Dengan demikian generasi sekarang akan tahu bagaimana penderitaan bangsanya di masa lalu dan lebih menghargai kehidupannya sekarang ini. Sebagai generasi muda, kita tentu juga dituntut untuk bisa memberikan penghormatan tinggi kepada sosok wanita, ibu, nenek dan lainnya.

Jika perlu, pemerintah seharusnya memberikan dukungan moral dan subsidi materi untuk mereka. Tentu menjadi kebahagiaan bagi mereka jika di usia senja mereka bisa merasakan sedikit kebahagiaan walaupun hal tersebut belum tentu bisa menghapus memori kelam mereka. Saya membayangkan suatu saat akan dibangun Peace Monument for Comfort Women di depan kedutaan besar Jepang di Jakarta, seperti halnya di Seoul. Namun, patung gadis Indonesia tidak memakai handbok namun memakai kebaya. Monumen ini akan menjadi simbol bagi silent and resilient protest yang akan selalu menanti pertanggungjawaban pemerintah Jepang, yang entah kapan akan terealisasi. Saya berpendapat bahwa permintaan maaf tidak akan merubah status Jepang sebagai bangsa yang besar. Berbagai bantuan internasional yang diberikan oleh Jepang dalam bentuk apapun, tidak akan pernah mengubah sejarah dan apa yang terjadi di masa lalu. What happened in the past would never change but at least it will change how the current and future generation see life in the past, present and future angle.
Saya berterima kasih kepada Tuhan karena saya diberikan sense of feeling yang sangat besar ketika saya melihat golongan grandma yang membutuhkan uluran tangan. Bahkan saya memiliki cita-cita besar jika saya nanti kaya, saya bisa membangun panti jompo untuk nenek-nenek yang terlantar. Saya ingin melihat wajah mereka bahagia karena cukup sandang, pangan dan papan. Saya ingin melihat mereka tersenyum bahagia sebelum mereka berpulang ke Tuhan Yang Maha Kuasa.
Akhirnya, selamat hari Ibu! Mari kita mulai menghargai sejarah bangsa sendiri dan menghormati mereka yang menjadi korban dalam kelamnya sejarah tersebut.
Photos courtesy: DM for credit