“Wah, beruntung sekali saya bisa main ke sekolah dasar dan melihat langsung bagaimana anak-anak di sana belajar disiplin dan bertanggungjawab”
Keterbatasan sumber daya alam tidak menghambat Negara Jepang untuk maju. Berangkat dari Restorasi Meiji, bangsa ini terus membangun negaranya menjadi salah satu bangsa terhormat di dunia. Toh, luka bom atom pada Perang Dunia II juga tidak menjadi ganjalan bagi Bangsa Jepang untuk terus membangun kemajuan. Ya, kemajuan yang didasarkan pada semangat juang mereka, semangat “ganbatte”.
Tidak ada orang yang mengira bahwa pada Jum’at, 11 Maret yang lalu akan ada gempa berkekuatan 9 S.R. yang lantas memacu timbulnya tsunami yang menggulung daerah pesisir timur laut Jepang tepatnya di daerah perfektur Fukushima, Iwate dan Miyagi. Bencana tersebut merupakan bencana terbesar yang melanda Jepang setelah gempa bumi Kobe beberapa tahun silam. Hantaman gelombang laut tidak ayal menimbulkan korban jiwa yang diperkirakan jumlahnya lebih dari 10.000 korban jiwa. Tidak hanya itu kerugian ekonomi juga menjadi sesuatu yang harus ditanggung oleh negeri matahari terbit ini. Diperkirakan kerugian ekonomi mencapai ratusan triliun rupiah atau jika dibandingkan dengan Indonesia jumlahnya hampir mendekati APBN Indonesia tahun 2011 ini. Tokyo sebagai salah satu pusat ekonomi Jepang juga terganggu aktivitas perekonomiannya. Bursa saham Jepang dan global sempat anjlok. Begitu pula partner perdagangan Jepang (ekspor impor) juga sedikit banyak mengalami hambatan terkait dengan bencana ini. Tidak hanya tsunami, gempa Jepang juga menyebabkan meletusnya bebrapa reaktor nuklir di Fukushima yang menimbulkan keresahan baru beberupa krisis nuklir. Masyarakat dunia, tidak hanya masyarakat Jepang, dihantui oleh ketakutan akan radiasi nuklir dan berharap tragedi bencana nuklir, seperti bencana nuklir Chernobil, tidak akan terulang kembali.
Jepang siapapun tahu negara ini, tidak hanya mungkin karena dulu Jepang yang mengaku sebagai saudara tua Indonesia pernah menjajah Indonesia selama 3,5 tahun namun karena kemajuan di berbagai bidang/aspek kehidupannya yang membuat dunia berdecak kagum. Negara yang awalnya miskin sumber daya alam, berubah menjadi negara berjuluk “Macan Asia” dan kini menjadi salah satu negara anggota G8 karena didasari oleh semangat nasionalisme warganya. Jepang identik dengan berbagai merek barang elektronik dan kendaraan bermotor yang membanjiri pasar Indonesia, pelestarian budaya lokalnya yang masih kental sampai saat ini, dan dengan masyarakatnya yang mempunyai etos kerja tinggi penuh kedisiplinan. Jepang bagi saya dan teman-teman lainnya juga akan identik dengan tokoh-tokoh kartun macam doraemon, Kapten Tsubasa, Sailormoon, Ninja Hatori, Sinchan dan semacamnya ehehe. Ya, itulah Jepang yang merupakan “mutiara” di Samudera Pasifik. Toh, terjadinya bencana tidak menyurutkan asumsi-asumsi orang di atas akan negara ini. Jika Anda benar-benar mengikuti bagaimana perkembangan penanganan bencana tersebut, maka Anda akan tahu bagaimana kuat dan tegarnya Bangsa Jepang. Berikut ini adalah beberapa cerita yang saya dapatkan dari berbagai sumber.

Masyarakat Jepang memang dididik untuk punya semangat juang yang tinggi. Berbagai moto penyemangat yang selama ini tumbuh dan berkembang di masyarakat Jepang antara lain gambatte kudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Bagaimana dengan “gambaru” itu sendiri? Menurut kamus Bahasa Jepang arti dari “gambaru” itu adalah ”doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan). “Gambaru” secara harafiah terdiri dari dua karakter yakni “keras” dan “mengencangkan”. Kalau dalam bahasa santainya, “gambaru” bisa diartikan sebagai jangan manja atau cengeng dalam menghadapi masalah, jangan mengharap akan selalu menemukan kegampangan dalam hidup karena akan selalu ada “kerikil” atau bahkan “batu besar” dalam jalan kehidupan tersebut. “gambaru” telah ditanamkan sejak dini kepada anak-anak Jepang. Tidak hanya mereka yang muda yang bersemangat, para lansia pun masih terlihat segar dan masih bisa melakukan berbagai aktivitas di usia mereka yang sudah senja. Hal itu yang bisa saya lihat secara langsung ketika mengikuti farewell party di Kota Taku beberapa saat yang lalu.
Bagaimana hubungannya dengan adanya bencana itu sendiri? Jika di Indonesia keberadaan media justru seringkali menambah kekhawatiran dan kecemasan masyarakat baik yang terkena maupun tidak terkena bencana, di Jepang justru sebaliknya media massa menjadi media yang menguatkan dan sarana komunikasi Pemerintah Jepang kepada masyarakat tentang tindakan cepat tanggap yang harus dilakukan. Jangan berharap akan ada siaran televisi dengan lagu-lagu sedih macam lagu Ebiet G. Ade. Alih-alih malah menambah kesedihan, di Jepang justru disiarkan acara yang menggugah semangat orang di sana. Cara tanggap bencana jika ada gempa susulan, cara penghematan listrik, cara membuat perangkat masak memasak dalam kondisi darurat, cara tanggap kesehatan di saat bencana dan sebagainya. Sekedar informasi bahwa pendidikan akan kesadaran bencana dan tindakan yang harus dilakukan ketika ada bencana sudah diajarkan sejak dini di bangku sekolah dasar.
Bangsa Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang ulet dan pekerja keras. Dimulai dari Restorasi Meiji, Jepang berubah menjadi kekuatan ekonomi dunia yang utama sampai saat ini. Selain pekerja keras, Bangsa Jepang juga dikenal sebagia bangsa yang tahu diri. Harga diri menjadi hal utama di atas segalanya. Jika harga diri tercoreng, maka nyawa menjadi taruhannya. Lebih baik mengorbankan nyawa daripada menanggung malu di depan orang banyak. Mungkin Anda pernah mendengar budaya bunuh diri (budaya harakiri) yang sering dilakukan oleh orang Jepang. Budaya bunuh diri karena harga diri sudah tercoreng. Tak heran jika kita sering mendengar berita mundurnya pejabat pemerintah dari mulai dari menteri bahkan sampai perdana menteri Jepang yang mengundurkan diri karena berbagai alasan antara lain skandal korupsi sampai pada ketidakmampuan memenuhi janji yang sebelumnya pernah diucapkan. Andai saja bangsa kita juga tahu dan sadar betul akan pentingnya harga diri tentu kasus KKN tidak akan merajalela dimana-mana.

Kharakter lain bangsa Jepang adalah pada budaya hormat menghormati. Seringkali kita melihat orang Jepang membungkukkan badannya di berbagai kesempatan. Hal ini menjadi tanda penghormatan tersebut kepada orang lain. Hal yang sama yang saya jumpai dan dilakukan oleh para pramugari maskapai penerbangan Jepang yang saya tumpangi bahkan oleh awak kereta shinkansen. Bahkan mereka membungkukkan badan walaupun tidak ada orang yang peduli atau memperhatikan mereka. Saya hanya tercengang melihat hal tersebut. Bagi Bangsa Jepang, waktu sangatlah berharga. Mereka terbiasa mengerjakan segala sesuatunya tepat waktu. Duh, beda sekali dengan budaya jam karet yang ada di negara kita. Seorang teman yang lain, Yamada-san, mengaku bingung ketika ketika ada orang bertanya, “Mengapa Bangsa Jepang bisa begitu tepat waktu?” Yamada-san perlu waktu lama untuk berpikir dan menjawab, dan akhirnya sampailah pada pernyataan bahwa semuanya sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, tidak ada yang spesial bahkan dirinya baru menyadari bahwa kebiasaan tersebut menjadi sesuatu yang cukup berharga ketika dia ditanya pertanyaan yang sama oleh orang lain yang berbeda.
Lantas apa hubungannya dengan kita? Sebenarnya Bangsa Indonesia juga memiliki kharakter dan nilai-nilai luhur yang digali dari akar budaya kita sendiri. Namun, sayangnya banyak nilai-nilai tersebut yang semakin ditinggalkan dan luntur oleh terjangan arus modernisasi. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan lagi, itu mungkin singkatnya. Saya tidak bisa membayangkan berapa generasi lagi kita akan tertinggal ketika kita masih manja, tidak mau bekerja keras, tidak mau berinisiatif berbuat kebaikan, tidak berdisiplin, tidak punya komitmen atau bahkan tidak punya rasa malu dan kemampuan mempertahankan harga diri dibandingkan dengan bangsa lain seperti Jepang. Mari kita belajar dari keteguhan dan etos kerja Bangsa Jepang. Jika Anda bisa, maka tularkan ke orang-orang lain di sekitar Anda. Mari menjadi Bangsa Indonesia yang tangguh, disiplin, dan beretos kerja tinggi. Gambaru Indonesia!