A Good Night with Bu Risma
A Good Night with Bu Risma

A Good Night with Bu Risma

‘Bu Risma dan Lukisan Berjudul Sri Wiji dari Bentara Budaya’

Malam itu, Kamis 5 Mei 2014, suasana sedikit ramai, ya mungkin karena setalah kami yang merupakan anggota Bentara Budaya mendapatkan SMS bahwa pembukaan acara seni malam itu akan dibuka oleh Ibu Risma Tri Harini yang merupakan Walikota Surabaya.

Ya, nama Bu Risma dulu mungkin bukan sesuatu yang menjadi media darling sampai pada saat dimana drama politik membuat dia hampir hengkang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Walikota Surabaya. Bagi saya, yang tidak kenal siapa sebelumnya Ibu Risma, Surabaya saat ini memang banyak mengalami perubahan. Saya yang lahir dan besar di Jawa Timur bisa merasakan bagaimana kota ini berubah. Dulu kota yang kotor, sumuk alias panas, tidak teratur sekarang menjadi kota yang lebih manusiawi dengan banyak fasilitas publik terpasang di sana. Dan ya, saya bisa melihat banyak sekali hal di kota ini yang dibenahi, mungkin saya tidak tahu bagaimana di balik layar namun hal tersebut yang bisa saya rasakan.

Malam, itu Bu Risma akhirnya hadir di pelataran Bentara Budaya Jakarta, ditandai dengan banyaknya fotografer yang mengabadikan hal tersebut. Dia terlihat begitu ramah menyapa orang-orang di kanan kirinya, termasuk saya yang duduk di barisan paling depan sebaris dengan para petani dari Indramayu.

Acara malam itu bertajuk ‘Semangat Jagoan Petani Indramayu’ Acara ini akan merupakan acara pementasan dan pagelaran seni masyarakat agragris Indramayu. Indramayu merupakan sebuah kabupaten di Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Masyarakat di sana mayoritas merupakan petani dan memiliki nilai tradisi dan kultural yang luar biasa untuk diangkat dan diperkenalkan kepada publik. Acara malam itu menampilkan berbagai sambutan termasuk pertunjukan tari berjudul ‘Lesungku’ yang merupakan asuhan dari seniwati Indramayu, Wangi Indira. Lesungku bercerita tentang bagaimana dinamisnya kehidupan petani Indramayu termasuk cerita tentang bumiloka yang dipercaya di sana. Acara lin adalah pameran seni yang menampilkan berbagai karya seni meliputi lukisan kaca tentang pertanian, lukisan Dewi Sri, aneka wayang serta berbagai display kegiatan petani di Indramayu. Acara ini menurut saya sangat menarik karena mengangkat bagaimana kearifan lokal masyarakat Indramayu dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. Mereka menggunakan cara-cara yang alami dalam bertani dan mereka berusaha untuk mewujudkan masyarakat tani yang mandiri sehingga mereka juga bisa mencapai kemandirian ekonomi.

Indonesia memang merupakan negara agragris, dimana mayoritas masyarakatnya adalah petani. Namun, petani Indonesia masih banyak yang miskin dan termiskinkan secara sistemik. Mereka masih menjalankan pertanian dengan cara yang konvensional dengan tidak menghitung biaya tenaga kerja, di samping biaya pupuk dan pestisida yang makin mahal, banyaknya produk impor serta banyak hal lain yang membuat mereka semakin miskin. Namun toh tidak banyak yang dilakukan oleh pemerintah dan bukan tanggungjawab pemerintah sepenuhnya untuk menyelesaikan semua masalah. Dengan demikian, maka perlu inisiatif-inisiatif independen untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dan standing ovation, saya berikan untuk kelompok-kelompok tani Indramayu yang berusaha untuk mengubah keadaan petani dan pertanian di sana.

Kembali ke Bu Risma, dalam sambutannya malam itu, Bu Risma menceritakan tentang bagaimana pertanian dijalankan di Surabaya. Pertanian dalam arti luas termasuk perikanan dan peternakan. Di antaranya adalah pengembangan sayuran dan padi di Surabaya sehingga kota ini bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri bahkan bisa menyuplai komoditas tersebut ke daerah lain. Selain itu pemberdayaan terhadap masyarakat nelayan dan ibu-ibu istri nelayan dengan pemberian berbagai pelatihan, pembangunan gudang dan pemberian peralatan nelayan misalnya kapal motor. Cerita Bu Risma terlihat sangat meyakinkan, dan semoga saja memang hal tersebut yang terjadi di lapangan. Mungkin banyak orang bertanya termasuk saya, kenapa Bu Risma bukan bupati Indramayu atau lainnya? Pihak Bentara Budaya kemudian menjelaskan bahwa pertanian merupakan milik semua kabupaten/ kota di Indonesia dengan demikian keberadaan siapapun yang bisa mewujudkan pertanian yang berkelanjutan dan menginspirasi bisa menjadi contoh nyata bagi semua orang. Bu Risma kemudian mendapatkan souvenir lukisan dari Bentara Budaya di akhir sambutannya. Lukisan tersebut berjudul ‘Sri Wiji’ yang menggambarkan Dewi Sri menaburkan benih dari langit ke areal pertanian di bawahnya. Lukisan ini mengandung arti, jika dewi Sri (dipercaya sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan) telah memberikan izin dan berkahnya, maka kesejahteraan bagi para petani akan bisa dicapai. Sri Wiji ini pula yang menggambarkan bagaimana dan apa yang dilakukan oleh Bu Risma sejauh ini di Surabaya.

Malam itu, saya cukup senang karena bisa berinteraksi langsung dengan Bu Risma, satu dari mungkin sedikit sekali pemimpin di negeri ini yang benar-benar baik dan tulus. Sosok ibu yang selama ini hanya saya bisa lihat di TV atau media massa lainnya baik cetak maupun elektronik. Saya memang memimpikan bahwa makin banyak orang yang memimpin negeri ini benar-benar tulus dan tidak gila jawaban, tidak menjadikan jabatan sebagai simbol kekuasaan semata namun di baliknya, banyak hal yang harus dilakukan di lapangan. Tidak boleh bagi mereka untuk menutup mata, mulut dan telinga mereka seolah tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Menjadi pemimpin bukanlah suatu kebanggaan, tapi amanah. Menjadi pemimpin harus mau berkorban walaupun dimusuhi oleh mayoritas orang. Menjadi adalah menjadi manusia yang mau tulus berguna untuk orang lain, bukan karena satu dan lain hal. Semoga kita bisa menjadi pemimpin yang baik yang bisa membuat orang-orang di sekitar kita tersenyum bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *