Salah satu pengalaman saya yang cukup bermakna lain adalah ketika mengikuti salah satu latihan kepemimpinan yakni Young Leader for Indonesia (YLI) 2009. Program kepemimpinan ini digagas oleh McKinsey&Company. Sebagai sebuah program kepemimpinan yang bertaraf nasional, YLI mengundang mahasiswa-mahasiswi seluruh Indonesia yang terseleksi untuk ikut bergabung dalam ajang yang ingin mencetak pemimpin masa depan Bangsa Indonesia ini.
Seleksi untuk mengikuti program ini sepertinya gampang-gampang susah. Setiap aplikan diwajibkan untuk mengirimkan CV ala McKinsey serta membuat esai tentang pengalaman kepemimpinan yang pernah dijalani. Awalnya saya memang tidak berniat untuk ikut program ini. Capek, bosan, dan penat itulah alasannya. Apalagi ketika program ini berlangsung, saya akan berada di semester delapan yang berarti saya harus fokus pada skripsi (walaupun faktanya jauh dari itu ehehe). Alhasil, saya mengirimkan aplikasi di menit-menit terakhir, I made essay at last minute and the CV as well. Namun namanya juga nasib, kalau sudah digariskan untuk ikut terseleksi ya mau bagaimana lagi. Akhirnya saya menjadi peserta di antara sekitar 70 mahasiswa-mahasiswi lainnya. Senang? Waktu pengumuman saya merasa biasa saja ehehe. Justru saya malah kepikiran karena kerjaan saya akan bertambah banyak di semester delapan nantinya.
Program YLI dibagi menjadi tiga forum. Forum pertama diadakan pada awal Februari 2010. Forum kedua pada April dan terakhir pada Juni. Karena program ini adalah program kepemimpinan maka topik yang diangkat di setiap forum juga tidak jauh dari topik kepemimpinan. Pada forum pertama, saya tidak ikut serta karena ada urusan ke Singapura. Pada forum pertama ini, topik yang diangkat adalah tentang “Lead Your Self“. Intinya adalah tentang bagaimana memimpin diri sendiri dan menjadi pribadi yang berjiwa kepemimpinan. Yang saya tahu pada forum pertama hadir banyak tokoh-tokoh terkenal Indonesia misalnya Dinno Pati Djalal (yang saat ini menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika), Anies Baswedan (rektor Universitas Paramadina dan Penggagas Indonesia Mengajar), Butet Manurung (pengajar orang rimba Sumatera) dan sebagainya. Untungnya terdapat catch up session yang memungkinkan saya untuk mengikuti semacam forum susulan di office McKinsey. Sebagai “latihan” akan pemahaman dan kemampuan praktikal peserta program. Maka tiap orang diwajibkan untuk membuat personal project yang cakupannya luas sesuai dengan bakat, minat dan passion setiap peserta yang bersangkutan. Saya pribadi membuat program kegiatan Gerakan Ayo Menulis yang ditujukan untuk mahasiswa-mahasiswi FEUI yang mempunyai ketertarikan akan kegiatan menulis. Project diselenggarakan selama satu setengah bulan dimana di dalam pengorganisasian project tersebut setiap peserta akan dibantu oleh tiga unsur (ahaha aneh banget pilihan katanya) yang meliputi konsultan McKinsey, alumni YLI angkatan 2008 serta development partner yang merupakan peserta YLI angkatan 2009 sendiri. Project tersebut nantinya akan dipresentasikan dalam forum 2.

Pada forum 2, yang diselenggarakan pada April 2010, mengangkat tema “How to Lead Others“. Intinya setelah berhasil menjadi pemimpin diri sendiri, maka seseorang harus bisa memimpin orang lain. Aktivitas yang dilakukan antara lain presentasi personal project, sharing session dengan bintang tamu yang antara lain CEO Holcim Indonesia, Direktur PR Djarum, Kepala BKPM Indonesia dan masih banyak lagi. Yang membuat menarik mungkin adalah group games dimana setiap kelompok yang sebelumnya telah dibagi diharuskan untuk mengerjakan proposal bisnis dan mempresentasikannya ke depan “calon investor” yang orang Italia. Kami hanya diberi waktu sekitar dua setengah jam untuk jam untuk menyiapkan semuanya, dengan disediakan sejumlah uang, termasuk membeli berbagai bahan yang dibutuhkan di mall-mall terdekat dengan tempat acara. Produk atau gagasan bisnis yang diajukan haruslah bersumber pada potensi Indonesia. Walhasil, karena pada saat itu sedang ngetop penggunaan batik, banyak ide dari beberapa kelompok yang terinspirasi dari batik. Kelompok kami sendiri menyuguhkan jewelry yang bersumber dari batu-batuan alam Indonesia. saat pengumuman pemenang pada acara dinner, kelompok kami memenangkan penghargaan sebagai kelompok yang paling bersemangat dan paling kompak. Ada juga penghargaan bagi kelompok dengan proposal bisnis terbaik serta personal project terbaik. Lumayanlah dapat medali ehehe. Sama seperti forum I, setelah forum 2 kami juga harus membuat project. Bedanya kali ini adalah mutual project. Tiap kelompok yang terdiri dari sekitar 5-6 orang di-assigned ke project yang sudah ditentukan oleh panitia YLI. Project kami saat itu adalah Modernisator terkait dengan bagaimana mem-booming kan kegiatan tersebut. Modernisator adalah kegiatan yang digagas oleh Dino Patti Djalal, yang tujuannya adalah untuk memberikan experience sharing tokoh-tokoh yang handal di bidangnya masing-masing.
Forum 3 adalah diisi dengan presentasi BLP, tindak lanjut peserta setelah program YLI selesai dan juga sesi untuk mempersiapkan peserta di dunia kerja atau dunia lain setelah kuliah. Ada juga semacam job fair yang menghadirkan banyak perusahaan ternama di Indonesia, what a really nice McKinsey ahaha.
Bagi saya, kalau boleh jujur YLI kurang begitu meninggalkan kesan mendalam. Apalagi saya tidak banyak mengenal lebih dekat seluruh peserta sehingga bonding yang saya bangun juga sangatlah kurang. Mungkin karena waktu itu pikiran saya bercabang ke banyak hal sehingga tidak fokus dengan program YLI itu sendiri. Apapun itu, sedikit banyak saya mendapatkan pelajaran berharga tentang kepemimpinan. Bagaimana memiliki jiwa pemimpin dan mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. Sesuatu yang sangat saya ketahui tapi jarang saya lakukan ahaha. Tentu saya berharap, program yang akan terus dilanjutkan setiap tahunnya ini akan membawa atau melahirkan pemimpin-pemimpin muda di Indonesia