Embracing The Life as Youth Under Platform of Duta Muda ASEAN-Indonesia
Embracing The Life as Youth Under Platform of Duta Muda ASEAN-Indonesia

Embracing The Life as Youth Under Platform of Duta Muda ASEAN-Indonesia

Akhir tahun lalu, saya terpilih sebagai satu dari dua puluh pemuda-pemudi Indonesia yang didaulat oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk menjadi Duta Muda ASEAN-Indonesia 2009. Kementerian Luar Negeri memang memiliki program dua tahunan untuk memilih DMAI dari kalangan mahasiswa-mahasiswi dari seluruh penjuru Indoensia. Senang rasanya, karena saya akan memiliki kesempatan untuk memperkenalkan ASEAN melalui berbagai media dan kegiatan baik untuk skala lokal, nasional, regional maupun internasional. Ya, salah satunya adalah melalui kegiatan menulis yang merupakan salah satu hobi saya.

Indonesia yang selama ini terkenal dengan politik bebas aktifnya, memang telah memberikan banyak tindakan nyata dalam membawa perdamaian dunia, salah satunya adalah dengan menjadi inisiator pembentukan organisasi regional di Asia Tenggara pada tahun 1967. Atas prakarsa lima negara yakni Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan termasuk Indonesia, ASEAN (Association of South East Asian Nation) akhirnya dibentuk. Saat ini ASEAN beranggotakan sepuluh negara termasuk lima negara pendiri serta Brunei Darussalam, Myanmar, Laos, Vietnam dan Kamboja. ASEAN memiliki tujuan antara lain untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial budaya di negara-negara ASEAN, mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional melalui penghormatan terhadap hukum dan keadilan, mempromosikan kerjasama dan kolaborasi dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan serta bidang administrasi serta untuk menyediakan peluang kerjasama dan bantuan teknis dalam masalah perkembangan pendidikan. Dengan beranggotakan sepuluh negara, maka ASEAN merupakan organisasi regional yang memiliki keberagaman masyarakat dengan berbagai latar belakang ekonomi dan sosial budaya. Inilah salah satu hal yang membuat ASEAN sebagai sesuatu yang unik dibandingkan dengan organisasi regional lain misalnya Uni Eropa.
Lantas, mengapa ASEAN penting bagi Indonesia? Sebagai negara yang hidup dalam lingkungan internasional, maka tentu Indonesia tidak bisa hidup sendiri. Sama seperti analogi manusia yang merupakan makhluk sosial, maka suatu negara juga akan membutuhkan negara lain untuk misalnya memenuhi kebutuhan negara tersebut, katakanlah contoh paling sederhana adalah melalui kegiatan ekonomi ekspor-impor. Dan tentu keberadaan suatu negara baik secara langsung maupun tidak langsung akan berpeluang untuk menimbulkan masalah dan juga peluang bagi negara tetangga yang paling dekata secara geografis dengan negara tersebut. Contohnya misalnya keberadaan hutan hujan tropis di Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hutan yang sering terjadi di sana tentu akan menimbulkan polusi asap yang berpeluang untuk mencemari udara negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Di sisi lain, keberadaan hutan ini juga menghasilkan manfaat ekologis secara tidak langsung bagi negara-negara tersebut misalnya dalam hal upaya untuk menghentikan pemanasan global. Dengan demikian ketiga negara tersebut, serta negara anggota ASEAN lainnya, mempunyai kepentingan yang sama atas kelestarian hutan hujan tropis. Dan bidang kehutanan ini bisa menjadi bidang kerjasama bagi negara anggota ASEAN. Setidaknya keberadaan ASEAN merupakan realisasi dari peribahasa yang berbunyi “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” dalam artian adanya kerjasama multilateral akan lebih efektif dalam memecahkan suatu masalah dibandingkan ketika satu negara melakukan upaya sendiri dan terkotak-kotak. Tentunya kerjasana tersebut dilakukan dengan tetap menghargai kedaulatan masing-masing negara. Pendeknya, ASEAN memang telah menjadi tujuan hidup bersama.
Untuk mencapai tujuannya, ASEAN akan membentuk ASEAN Community pada tahun 2015. Komunitas ASEAN 2015 akan terdiri dari tiga pilar komunitas yakni ASEAN Political Security Community, ASEANEconomic Community dan ASEAN Socio-cultural Community. Dengan demikian keberadaan ASEAN bukan hanya sekedar statement of hope yakni dokumen perjanjian yang isinya hanya harapan semata, namun lebih dari itu ada aksi nyata untuk mencapai harapan tersebut. Berbagai kerjasama antara 10 negara anggota ASEAN sudah lama dirintis di ketiga pilar tersebut dan akan terus digalakkan bagi tercapainya kepentingan bersama. Lantas apa peluang yang akan didapatkan oleh masyarakat Indonesia khususnya? Dalam bidang ekonomi misalnya, nantinya masyarakat Indonesia akan mampu bekerja dimanapun di negara ASEAN dengan perlindungan atas migrant workers’ right yang memadai. Bisa saja misalnya ahli pertanian Thailand akan bekerja di Jogjakarta misalnya untuk membantu mereka dalam mengembangkan pertanian yang berkelanjutan. Masyarakat Indonesia juga bisa mengakses pendidikan lintas negara. Jangan heran jika nantinya banyak mahasiswa Sulawesi yang belajar di salah satu universitas di Brunei Darussalam (memang walaupun faktanya hal tersebut sudah lama berlangsung). Di bidang pariwisata, keberadaan program ASEAN’ 10 paradises, memungkinkan potensi wisata lokal dapat diberdayakan dengan mengambil benchmark negara dengan pengelolaan pariwisata yang sudah maju seperti Malaysia. Namun, keberadaan Komunitas ASEAN tidak hanya membawa peluang namun juga tantangan. Tantangan tersebut akan menjadi ancaman jikalau masyarakat Indonesia umumnya tidak kompetitif dalam menyambut terbentuknya komunitas ini. Salah satu fakta yang sudah kita jumpai adalah melubernya produk buatan China di pasar lokal. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk perjanjian ekonomi ASEAN-China yakni perdagangan bebas ASEAN-China yang dimulai awal tahun 2010 ini. Tentu menjadi tantangan bagi setiap orang Indonesia untuk meningkatkan daya saingnya misalnya melalui pendidikan secara umum, melalui peningkatan kualitas produk dan efisiensi produksi bagi produsen apapun itu maupun melalui cara lainnya.

Bagi DMAI sendiri merupakan suatu tantangan bagi kami untuk bagaimana memasyarakatkan ASEAN sampai ke tingkat grass-root society, karena memang selama ini ASEAN seakan menjadi milik para pejabat tinggi dan para diplomat Indonesia. Faktanya banyak masyarakat yang tidak tahu apa itu ASEAN dan apa manfaatnya bagi Indonesia. Bahkan bagi pelajar pun, pemahaman tentang ASEAN kalau boleh saya berargumen masih kurang mengingat mereka hanya belajar secara singkat tentang ASEAN melalui beberapa lembar buku pelajaran yang memuat artikel tentang ASEAN dan seluk beluknya. Oleh karena itu, kami yang tergabung dalam DMAI, telah menyusun banyak program sosialisasi tentang ASEAN khususnya ditujukan untuk kalangan pelajar seperti lomba menulis My ASEAN Program, seminar tentang ASEAN, ASEAN Goes To School (AGTS), ASEAN Students’ Summit dan sebagainya. Program tersebut akan mulai dijalankan awal tahun ini. Terkait dengan program ASEAN Goes to School misalnya, para DMAI akan mengunjungi beberapa sekolah di berbagai daerah untuk langsung mensosialisasikan ASEAN di sekolah tersebut. Tentu tidak menutup kemungkinan nantinya akan ada salah satu sekolah di daerah Anda yang akan kami kunjungi. Ide yang mendasari program tersebut adalah keinginan kami untuk mewujudkan aspirasi “tahu, paham, dan tindak lanjuti”. Dalam artian, kita semua harus mengetahui dan memahami betul apa itu ASEAN serta apa peluang dan tantangan yang dibawanya. Kemudian dengan pemahaman tersebut, kita melakukan aksi nyata agar bisa mendapatkan manfaat keberadaan ASEAN tersebut. Selain itu, kami juga mempunyai kesempatan untuk bertukar pikiran dengan pemuda-pemudi ASEAN lainnya dengan mengikuti berbagai kegiatan internasional. Salam Duta Muda ASEAN-Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *