Volunteering di Pulau Pari: Clean Up Day 2014
Volunteering di Pulau Pari: Clean Up Day 2014

Volunteering di Pulau Pari: Clean Up Day 2014

Pada tanggal 22-23 April yang lalu, saya ikut serta dalam kegiatan ‘Clean Up Pari Island’ yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Loka Pengembangan Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari LIPI. Kegiatan ini melibatkan sekitar 40 peserta dari berbagai latar belakang usia, pekerjaan dan sosial.

Kegiatan campaign ini bertujuan sebagai salah satu bentuk peringatan hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April. Panitia mengajak para peserta untuk mengeksplorasi alam Pulau Pari dan bersama dengan penduduk lokal ikut serta dalam berbagai kegiatan menarik berbasis lingkungan. Pulau Pari menjadi salah satu objek wisata favorit warga Jakarta dan sekitarnya. Adanya kunjungan wisatawan ini membawa dampak positif dan juga negatif. Dampak negatif antara lain berupa permasalahan lingkungan misalnya kebutuan air bersih yang meningkat tajam, permasalahan sampah dan infiltrasi budaya yang mereka bawa ke masyarakat lokal.

Matahari Terbenam di Pulau Pari

Kegiatan ‘Clean Up Pari Island’ ini diawali dengan adanya kegiatan di SD dan SMP 1 Atap Pulau Pari. Sekolah dasar dan menengah ini merupakan yang satu-satunya di pulau ini. Di sekolah ini para peserta diajak untuk pengumpulan tanda tangan dan komitmen untuk mendukung pelestarian alam di Pulau Pari. Anak-anak dan penduduk lokal juga dilibatkan. Para peserta secara umum berharap agar lingkungan di Pulau Pari terus dijaga dan dilestarikan untuk menunjang kegiatan ekonomi warga sekitar. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menulis bunga harapan. Bunga warna warni ini berisi harapan peserta dan warga lokal akan Pulau Pari. Dua campaign simbolis ini nantinya akan diwujudkan dalam aksi nyata melalui koordinasi dengan LIPI. Acara dilanjutkan dengan semacam seminar singkat terkait dengan pengelolaan sampah dari Bank Sampah Melati Bersih dan LIPI.

Dari pengelolaan sampah sampai tanam pohon bakau

Bank Sampah Melati Bersih merupakan lembaga sosial masyarakat yang bergerak dalam penanganan sampah, dan berawal di Tangerang Selatan Provinsi Banten. Masyarakat bisa mengumpulkan sampah dimana sampah tersebut akan dinilai dan dicatat dalam buku tabungan masyarakat terkait. Masyarakat bisa mengklaim pencairan dana tabungan sampah mereka sesuai dengan program tabungan yang mereka pilih. Bank sampah ini termasuk berhasil memberikan kampanye positif bagi warga masyarakat tentang managemen sampah dan kelestarian lingkungan. Saat ini keberadaannya sudah memiliki beberapa bank sampah di berbagai wilayah Jabodetabek. Para peserta dan warga lokal sangat antusias mendengarkan penjelasan terkait dengan permasalahan sampah. Banyak pulau-pulau yang mendapatkan ‘hibah’ sampah dari Teluk Jakarta karena kebiasaan membuang sampah ke sungai yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar daerah aliran sungai (DAS) sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Kebaradaan sampah selain merusak keindahan alam juga mengancam keberadaan biota yang ada di ekosistem yang tercemar. Lebih lanjut lagi, disebutkan bahwa pendidikan kesadaran berlingkungan perlu digalakkan oleh berbagai pihak terkait dari hulu ke hilir sungai.

Anak-Anak di Pulau Pari

Kegiatan dilakukan dengan melakukan bersih-bersih sampah di pantai yang ada di Pulau Pari. Di berbagai sisi banyak sekali ditemui sampah terutama sampah plastik. Peserta secara aktif membersihkan sisi sampah tersebut. Karena singkatnya waktu, maka kegiatan serupa perlu dilakukan oleh pihak atau komunitas lain sehingga kegiatan serupa bisa lebih maksimal memberikan dampak pada kebersihan pantai. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon bakau di sisi pantai tersebut. Hutan bakau merupakan salah satu ekosistem yang ada di Pulau Pari dan sekitarnya terutama bagian pulau sebelah timur dan Pulau Burung. Hutan bakau memiliki banyak manfaat, selain sebagai benteng untuk pelindung daratan dari ombak juga merupakan ekosistem dengan berbagai biota yang unik, yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis bagi warga sekitar. Di Pulau Pari, hutan bakau tidak banyak dijumpai karena tipe gugusan kepulauannya yang merupakan gugusan karang, dalam artian daratan tidak berbatasan langsung dengan laut lepas namun dikelilingi dan dilindungi oleh karang. Hal ini menyebabkan daratan pulau tidak begitu rentan terhadap potensi tsunami atau sejenisnya sehingga keberadaan hutan bakau juga tidak begitu signifikan urgensinya. Namun demikian, LIPI berusaha untuk menggalakkan penanaman hutan bakau di sana sehingga ekosistem Pulau Pari menjadi lebih beragam.

Pada sesi terpisah dijelaskan bahwa keanekaragaman biota terutama hewan di Pulau Pari semakin terancam. Hal ini terutama karena kualitas air yang semakin buruk akibat banyaknya tumpahan minyak yang ada di sana. Berbagai jenis ikan jumlahnya semakin sedikit dan sulit ditemui, salah satunya adalah ikan pari sendiri. Dulu, ikan pari dengan sangat mudah dijumpai di sekeliling pulau ini. Inilah kenapa pulau ini dinamakan Pulau Pari. Namun, berbagai faktor terutama bahwa ikan ini banyak dikonsumsi oleh penduduk lokal menjadikan ikan ini sudah sangat langka di sana. Akibat penurunan kualitas air pula, dulu penduduk lokal yang banyak beternak rumput laut sekarang berpindah menjadi penggiat industri pariwisata dengan menyediakan berbagai jasa pendukung misalnya penginapan, sewa sepeda, warung makanan dan sebagainya. LIPI mendirikan UPT khusus karena keberagaman ekosistem di pulau ini dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Di pulau ini pula, penelitian akan rumput laut pertama kali dilakukan, dan konon katanya benih-benih rumput laut yang sekarang dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia berasal dari pulau ini. Saat ini, keberadaan rumput laut sudah sangat terbatas dan penduduk lokal menjadikannya sebagai bahan olahan dodol rumput laut yang kemudian dijual ke wisatawan.

Ibu-Ibu Pembuat Dodol Rumput Laut

Lingkungan di Pulau Pari telah mengalami berbagai perubahan baik yang terjadi karena proses alami maupun karena disebabkan oleh aktivitas sosial ekonomi warga lokal maupun pendatang misalnya wisatawan. Menjadi hal yang sangat penting bagi semua orang untuk menyadari bahwa kepedulian menjaga kelestarian lingkungan perlu dilakukan, dengan cara sederhana dan dilakukan oleh orang dengan jumlah yang masif. Semoga ‘kemegahan’ alam Pulau Pari bisa kembali seperti sedia kala dan hal tersebut tidak tinggal menjadi cerita bagi anak cucu kita. Amin.

Saya sangat menikmati short escape selama 2 hari satu malam di Pulau Pari ini. Selain dapat menimba ilmu baru, bertemu dengan banyak teman baru dan tentunya bisa jalan-jalan. Menikmati Pulau Pari dapat dilakukan dengan sederhana misalnya dengan menikmati suasana matahari terbit dan terbenam dan kedamaian yang dibawanya. Udara di Pulau Pari masih sangat segar, cocok bila kamu ingin berolahraga seperti lari atau jalan kaki. Kamu juga tentunya bisa berenang di sekitarnya.

Anak-Anak Penari Betawi

Tentang Pulau Pari

Pulau Pari adalah salah satu pulau yang ada di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Pulau ini dapat ditempuh dengan perahu motor selama 1-1.5 jam dari Dermaga Marina Ancol atau Pelabuhan Kaliadem Muara Angke. Pulau ini juga relatif dekat dengan pulau lainnya seperti Pulau Tidung, Pulau Harapan, Pulau Pramuka, Pulau Lancang dan Pulau Rambut. Pulau Pari telah menjadi objek wisata yang terkenal di Jakarta, dengan destinasi utama antara lain Pantai Kresek, Pantai Perawan dan Dermaga Bukit Matahari. Di Pulau Pari ini, kamu bisa menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam yang indah. Berbagai fasilitas penunjang pariwisata juga dapat ditemui dengan mudah di sini seperti tempat makan, akomodasi berupa rumah-rumah warga, dan penyewaan peralatan permainan air seperti snorkeling, pelampung dan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *