“Home is not a place. It is a feeling”
“Home is where hearth is”
Alhamduillah adalah kata pertama yang saya ucapkan ketika saya akhirnya memiliki rumah sendiri. Ya, sesuatu yang saya impikan sejak dulu setelah beberapa kali selama sepuluh tahun saya berpindah-pindah tempat tinggal sebagai anak kost-an. Ya, saya sempat menjadi mobile person di beberapa wilayah seperti Margonda Depok, Thamrin Jakarta pusat, Palmerah Jakarta Barat, Kota Balikpapan, dan Tebet Jakarta Selatan. Rasanya pindah dari satu tempat ke tempat lain adalah sesuatu yang melelahkan. Apalagi barang saya selalu bertambah, kadang barang tersebut harus rela saya buang karena tidak muat di tempat yang baru. Cukup sudah sampai di situ saja ehehe.

Rumah saya yang pertama saya beli ini adalah rumah vertikal alias apartemen. Ya, karena saya belum mampu membeli rumah tunggal karena mahalnya harga properti di Jakarta. Apapun itu, saya selalu menyebutnya rumah. Rumah saya adalah di salah satu apartemen di Kota Jakarta Timur. Luasnya cukup lah untuk saya yang masih single ini. Dengan dua kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang santai dan dapur. Saya merasa tentrem ketika tinggal di sini. Ya, sejelek atau seterbatas apapun, hati ini akan lebih tenteram jika tinggal di tempat yang menjadi miliki sendiri.

Berada di lantai 12, unit saya menghadap ke arah timur. Unit saya tergolong spesial karena saya setiap hari dapat melihat matahari terbit dengan lapang. Di Jakarta timur tidak seperti daerah pusat Jakarta lainnya karena tidak banyak gedung pencakar langit di sini. Yang lebih menyenangkan lagi adalah apartemen ini sangat mewah, benar-benar mewah alias mepet sawah ehehe. Saya senang sekali ternyata masih ada sawah yang luas di samping apartemen ini. Tiap hari saya bisa melihat petani bekerja di sawah entah menanam dan merawat padi, ataupun aneka sayur seperti kangkung. Udara di sini juga masih alami dan segar, apalagi ketika pagi dan malam hari: suejuk pol.
Barang-barang saya lumayan sangat banyak. Belum lagi berbagai perabot baru yang saya harus saya beli. Syukurnya saat ini ada teman yang membantu untuk melakukan pindahan barang, dari berbagai tempat ke lantai dasar dan dari lantai dasar ke lantai 12 ehehe. Saya sendiri selama ini suka mengoleksi berbagai benda seni entah berupa lukisan, patung, kain dan lainnya. Alhamdulillah barang-barang tersebut sekarang memiliki tempatnya masing-masing setelah sekian lama hanya disimpan di dalam kardus. Saya memang memutuskan untuk menghias dan mem-furnish sendiri rumah saya, tidak menggunakan jasa furnish profesional. Pertama pasti karena pertimbangan biaya yang besar, yang mana saya tidak bisa menjangkau itu. Dan yang paling penting adalah karena kebebasan yang saya miliki terkait dengan hal ini. Saya bisa membeli furniture dalam bentuk, warna dan harga yang saya sukai. Saya sendiri tidak tahu konsepnya apa ehehe. Namun warna yang saya gunakan adalah warna Tridatu yang terdiri dari merah, hitam dan putih: mulai dari warna kursi, kamar tidur dan berbagai hiasan lainnya.

Apartemen saya, menurut beberapa orang termasuk cozy. Sederhana namun nyaman ditinggali. Saya menanam beberapa tanaman bunga, tanaman daun dan kaktus untuk menghidupkan suasana. Saya juga memelihara beberapa ikan cupang sebagai pelengkap. Tidak hanya itu, saya membeli air mancur mini yang bisa diletakkan dalam ruang. Air mancur ini menambah suasana alam asri setiap saat bahkan ketika malam ketika saya dengan jelas mendengar suara kodok dan hewan lainnya dari arah persawahan.
Apartemen saya ini, seperti terletak di desa namun tetap di Jakarta. Alhamdulillah dekat dengan berbagai fasilitas umum seperti stasiun, halte bus transjakarta, mall, pasar tradisional dan lainnya. Fasilitas di sekitaran apartemen pun juga memadai karena ada tempat makan, laundry, salon, pusat pengiriman barang, dan lainnya termasuk kolam renang, klinik kesehatan dan musholla.
Bagaimana dengan orang-orangnya? Orang-orang di sini masih ramah dan penuh dengan kekeluargaan. Kebetulan tower saya adalah tower yang memiliki RT sendiri yakni RT 9, dengan demikian saya bisa pindah domisili dan ber-KTP Jakarta. Kata Pak RT, jarang ada apartemen seperni ini. Saya sendiri pun terlibat dalam kepengurusan RT di sini sebagai koordinator warga lantai 12 dan 15. Ya, setidaknya ini yang bisa saya lakukan untuk sekitar dalam bentuk yang sederhana.

Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT. Rumah saya sederhana, namun di sini saya menghabiskan banyak waktu mencari inspirasi sambil melihat petani bekerja. Termasuk menulis berbagai tulisan di blog saya ini. Insya Allah berkah dan semoga Tuhan selalu memberi rejeki yang barokah untuk kita semua. Amien.