Saya diterima di Universitas Indonesia melalui program Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB). Orang bilang program ini untuk mereka-mereka yang pintar dan memiliki prestasi akademik maupun non akademik yang baik selama SMA. Kalau bagi saya, program ini justru untuk mereka-mereka yang takut ikut ujian terbuka macam SNMPTN, SIMAK UI atau semacamnya. Contohnya saya, siswa IPA yang secara gambling mencoba peruntungan jurusan akuntansi melalui PPKB tersebut. Untungnya diterima, karena kalau tidak saya tidak yakin bisa menembus ketatnya persaingan bangku di SNMPTN.
Pada awal kuliah, mahasiswa jalur PPKB harus menempuh beberapa tes persiapan kuliah. Ada tes bahasa Inggris, tes matematika, IPA dan IPS. Namun saya gagal lolos tes Bahasa Inggris (duh bodohnya). Konsekuensi yang harus saya jalani adalah saya harus ikut program matrikulasi kelas bahasa inggris. Melalui program ini, mereka-mereka yang “tidak pintar” bahasa inggris harus mengikuti “kursus” bahasa selama sekitar dua bulan.
Setelah tahu betapa serunya program tersebut, saya tidak menyesal menjadi anak yang “tidak pintar” bahasa inggris ehehe. Pada program tersebut saya berada di kelas G, G-class begitu lah sebutannya. Mahasiswa yang ada dalam kelas tersebut berasal dari berbagai daerah mulai Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau sampai Jawa Timur. Sehari-hari kami belajar Bahasa Inggris mulai dari writing sampai speaking, mulai dari hal paling sederhana sampai yang rumit. Bagi saya, inilah awal saya bersosialisasi dengan banyak orang dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Kekompakan kami juga teruji, pada akhir program matrikulasi setiap kelas (dari kelas A sampai M) harus menyajikan seni dalam acara kekerabatan. Kami menampilan paduan suara dengan lagu “heal the world” yang dipopulerkan Michael Jackson sebagai suguhan utamanya. Then guess what? Kami berhasil menjadi juara kedua.
Namun, seiring dengan kesibukan kami sebagai mahasiswa, kami loose contact. Jarang bertemu secara fisik karena komunikasi hanya dilakukan melalui social network semacam facebook. Terakhir kali kami melakukan reuni pada saat bulan puasa tahun 2009 yang lalu. Itupun tidak semua anak-anak G-Class yang jumlahnya sekitar 18 orang bisa ikut serta. Kalau saya sekarang saya ditanya nama dan wajah mereka satu-satu, saya juga tidak akan hafal (payah sekali), karena saya tidak punya facebook semua anak-anak G-Class. Walaupun demikian, suatu saat saya berharap saya akan bertemu kembali dengan mereka lagi, mungkin saat mereka sudah menjadi menteri, pebisnis sukses, politisi handal, atau figur masyarakat lainnya!
G-Class, I miss you!