Ubud bagiku sangat spesial. Terletak di Kabupaten Gianyar, Pulau Dewata, daerah ini berada di perbukitan dengan udara sejuk. Entah aku melihatnya sebagai desa atau kota, namun fasilitas di sini begitu lengkap, semuanya ada. Bagiku yang suka seni budaya, Ubud adalah tempat yang pas dimana aku bisa mengeksplorasi rasa dahagaku akan seni budaya melalui berbagai galeri yang ada di sana. Oh, berita baiknya, bahkan tiap ruas-ruas jalan di Ubud menyajikan auranya sendiri yang tidak kalah menarik dari apa yang terpampang di galeri-galeri itu. Memasuki bulan kedua dalam sabbatical leave -ku, aku semakin hanyut dalam proses mencari arti hidup ini. Hidup di Kota Jakarta yang padat dan penuh dengan rasa cemas, membuatku kehilangan esensi menjadi manusia. Ternyata uang memang bukan segalanya. Rasa damai dan penerimaan yang tulus dari manusia lain ternyata lebih berharga. Dan aku semakin menemukan rasa itu ketika aku menjelajahi daerah ini.
“Rahajeng semeng!” begitu sapa Kadek Ayu, seorang pegawai homestay dimana aku tinggal saat ini. Ayu, begitu aku menyapanya, sudah rapi berkebaya Bali dan hendak ngaturang canang sari sebagai ritual peribadatan tiap pagi hari. Homestay ini, mungkin aku lebih menyebutnya simple resort, terdiri dari 5 rumah-rumah kecil dengan kamar tidur dan kamar mandi di dalamnya. Semuanya terisi penuh. Hanya aku orang Indonesia yang tinggal di sini, lainnya adalah para pelancong lintas negara. Aku tidak kenal mereka satu-satu namun semuanya kurasa ramah-ramah. Tiap kali berpapasan kami semua selalu bertukar senyum. Mungkin mereka juga dalam proses mencari arti hidup, seperti yang sedang kulakukan. Homestay ini terletak di tepi persawahan Desa Mas, Ubud. Kamarku tepat menghadap ke arah timur. Tidak heran jika tiap pagi aku selalu merasakan kebahagiaan karena sinar matahari pagi langsung menyapaku tanpa terhalang gedung-gedung pencakar langit atau lalu lalang kendaraan bermotor. Kalau membaca jurnal ilmiah, sinar matahari memang dapat merangsang produksi hormon serotonin, yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan.
Aku semakin suka dengan Ubud, tempat dimana aku bisa menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Tiap siang, aku lebih sering mencari makan di warung-warung milik penduduk lokal. Salah satu langgananku adalah nasi Bali Ibu Komang. Ibu Komang adalah janda dua anak, suaminya meninggal karena kecelakaan kerja beberapa tahun lalu. Setidaknya dua kali dalam seminggu aku makan di tempatnya. Bu Komang mungkin sudah jadi teman baruku, semoga Bu Komang juga beranggapan yang sama. Yang kupahami dia adalah pekerja keras. Sebagai single parent dia harus berjibaku untuk memenuhi kebutuhan dua anak-anaknya yang bersekolah, selain tentunya kebutuhan biaya yang besar untuk berbagai upakara yang dia lakukan. Bu Komang memang jarang sekali mengawali perbicangan, namun ketika ditanya dia selalu menjawab dengan antuasias. Senyumnya, keramahannya terlihat otentik asli tidak dibuat-buat.
Di malam hari, aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk membaca buku. Kadang di dalam kamarku atau kadang di coffee shop atau tempat publik lainnya. Di Ubud, berbagai macam tempat makan bisa dijumpai. Tidak sulit juga menemukan tempat yang reader friendly. Malam itu aku memutuskan untuk membaca buku di Warung Kopi Nyoman. Tempatnya tidak luas namun sangat nyaman dengan suasana tropikal Bali. Tidak banyak orang malam itu, salah satu yang kulihat adalah seorang perempuan yang juga sedang membaca buku. Oh, cantik sekali, begitu pikirku. Aku tidak fokus membaca buku What I Know for Sure karya Oprah Winfrey yang memang kutargetkan selesai kubaca malam ini. Sesekali aku mencuri pandang ke perempuan tadi. Perempuan yang suka membaca memang punya daya tarik tersendiri. Aku sudah lama tidak mengenal cinta. Pun tujuanku ke Ubud bukan karena ingin mencari cinta. Tapi bisa saja Tuhan berkata lain, khayalku.
Sejak sore tadi sebenarnya perutku agak sakit, setelah beberapa lama, akhirnya aku tidak tahan untuk segera ke toilet demi “panggilan alam”. Lepas dari sana, aku bisa merasa lega. Kupandangi sekitar dan aku kembali ke tempat dudukku semula. Sial, perempuan tadi sudah tidak ada. Kutanya Nyoman, namun dia tidak kenal perempuan itu. Ah benar-benar sial! Perasaanku tidak enak, mood ku untuk membaca buku sudah hilang. Aku memutuskan untuk pulang dan berpikir besok malam aku akan ke Warung Kopi Nyoman lagi, siapa tahu aku bisa bertemu dengan perempuan tadi.